SELAMAT DATANG DI PAROKI HATI TAK BERNODA SANTA PERAWAN MARIA MAKALE
AMBILLAH DAN BACALAH
(Y a n s Sulo Paganna’, Pr.)
Minggu Pertama Pra-Paskah Tahun C
Judul di atas terinspirasi oleh permenungan Sto. Agustinus. Hanya saja kalau yang dimaksudkan oleh Sto. Agustinua, seorang kudus yang didoakan oleh Sta. Monika-ibunya selama tiga belas tahun demi pertobatan putra kesayangannya tanpa jemuh-jemuh ini adalah Kitab Suci, di sini saya ingin mengajak Anda untuk membaca buah sari dari Kitab Suci dalam kehidupan kongkrit Anda dan saya, dengan bertitik tolak dari tiga bacaan pada minggu pertama masa pra-paskah hari ini (Ul 26: 4-10; Rom 10: 8-13; Luk 4: 1-13).
Mari kita memulainya dengan permainan kata seorang yang tidak kukenal, yang pernah menorehkan beberapa kata-kata permenungannya dalam satu kertas, dan yang kemudian dilemparkannya begitu saja di sebuah taman. Suatu sore, tanpa sengaja aku menemukan secarik kertas di taman depan rumah kami saat aku sedang jalan-jalan sore sembari mencari permenungan untuk sebuah makalah yang sedang aku siapkan. Aku mengambil “sampah itu” dan membacanya. Kata-kata itu bunyinya demikian: “Tanda-tanda selalu ada di sekitar kita; Pertama, mungkin kita membacanya dan mengerti. Kedua, mungkin kita membacanya tetapi kita salah mengerti. Ketiga, mungkin kita tidak bisa membacanya, dan Keempat, mungkin kita tidak mau membacanya,..”
Apa yang menarik dari permainan kata orang yang tidak kukenal di atas bila kita hubungkan dengan bacaan-bacaan hari ini? Bacaan hari ini berbicara dua pokok permenungan: Bacaan pertama dan kedua, lebih berbicaar mengenai kesadaran bahwa Allah begitu baik kepada manusia karena itu adalah sangat wajar bila kita bersyukur kepada-Nya, sementara bacaan Injil lebih mengarahkan perhatian pada tantangan yang selalu dihadapi oleh manusia sepanjang abad.
Pada pokok permenungan pertama bacaan hari ini, khususnya dari kitab Ulangan dan surat rasul Paulus kepada umat di Roma lebih menghantar kita pada kesadaran real yang tidak mungkin dipungkiri bahwa Allah hadir dalam setiap hidup kita, hanya saja barangkali kita tidak bisa membaca kehadiran-Nya atau yang lebih konyol lagi bahwa terkadang kita sendiri tidak mau atau pura-pura tidak mau membaca kehadiran-Nya.
Sesungguhnya andai saja semua dari kita sadar betapa misterinya kelahiran kita, maka entah diseruhkan atau tidak, diperintahkan atau tidak, secara otomatis manusia akan berduyun-duyun datang kepada Allah. Bagaimana tidak, Anda dan saya terlahir dari sebuah misteri dan sama sekali bukan kebetulan. Bayangkanlah dari ilmu kedokteran kita mengetahui bahwa satu sel telur diperebutkan oleh ribuan bahkan jutaan sel sperma, dan ketika itu terjadi maka pada saat itu terjadilah misteri kelahiran manusia. Setelah itu lihatlah peristiwa yang lebih aneh lagi. Ketika Anda dan saya “terlempar” ke dalam dunia ini. Kita semua dalam keadaan telanjang – tanpa secarik helai kain, apalagi yang namanya kekayaan. Anda dan saya masuk ke dunia ini tanpa membawa apa-apa. Tangan Anda dan saya juga pada detik pertama masih terkepal setelah itu barulah Anda dan saya pelan-pelan membukanya bersamaan dengan tangisan pertama kita. Tetapi yang aneh adalah bahwa setelah bertumbuh dan mulai “memiliki sesuatu” seperti sekarang, kita merasa seolah-olah apa yang kita miliki saat ini adalah usaha kita semata. Bukankah ini sebuah kesombongan? Adakah di antara kita yang bisa mencipta, dalam artian mengadakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada? Tidak,Ini adalah hak pribadi Allah. Kita hanya bisa membuat dan merangkai, dari yang ada menjadi ada yang lebih baik dan berguna sesuai fungsinya. Lalu kalau demikian, mengapa kita terus menyombongkan diri, seolah-olah tanpa Allah kita bisa hidup seperti sekarang ini.
Kesadaran inilah yang kembali diangkat oleh Musa untuk bangsanya dalam bacaan pertama hari ini. Musa mengajak kaum sebangsanya untuk menyadari diri mereka yang telah menerima begitu banyak rahmat dari Allah mereka, yang dibahasakan dengan tinggal di negeri yang berlimpah susu dan madu. Sebuah simbolisme kemakmuran.
Bagaimana dengan kita sendiri? Apakah kita berani berkata bahwa kita pun dulu tidak berarti apa-apa, tidak memiliki apa-apa dan bahkan tidak berdaya sedikit pun lalu kita berteriak minta tolong dan Tuhan mendengarkan teriakan doa-doa kita? Ataukah kita akan berkata bahwa Tuhan terus bersembunyi dan jauh daripadaku sampai saat ini?
Mari kita bernostalgia. Masih ingatkah cerita orang tua-nenek-kakek kita pada tahun-tahun yang lalu; bagaimana mereka hidup? Konon katanya mereka harus jalan kaki sekian kilo meter setiap hari ke sekolah dengan bekal jagung bakar atau ubi bakar yang menjadi sarapan dan bahkan makan siang mereka. Pagi-pagi buta dengan bekal jagung atau ubi bakar, mereka berlari-lari ke sekolah. Tentu saja mereka belum mengenal yang namanya sandal jepit apalagyang namanya sepatu atau tas. Mereka belum kenal yang namanya NOKIA,Samsung,Sony Ericsson dan Laptop. Mereka masih menulis pada lempengan batu dan dipaksa untuk menghafal pelajaran yang diberikan pada hari itu juga. Mereka belum mengenal yang namanya motor dan alat-alat canggih seperti Internet. Mereka yang dengan setia dan commit pada cita-cita akhirnya menuai buah yang baik. Hanya saja barangkali sekarang mereka dan kita-kita manusia yang lahir kemudian ditantang untuk seperti orang-orang Israel yang telah dituntun oleh Allah keluar dari negeri perbudakan-dari-situasi sulit, kita hendaknya juga datang mempersembahkan persembahan syukur kita kepada-Nya. Pertanyaan mendesak untuk dijawab adalah, persembahan apakah yang telah kita bawa dan persembahkan kepada-Nya? Anda dan saya diberi waktu 24 jam sehari, atau 1440 menit dalam seharinya, berapa menit yang kita berikan kepadanya dalam doa dan pelayanan kepada orang lain. Apakah kita tidak begitu egois dengan mengambil semua waktu itu untuk diri kita sendiri, mengumpulkan dan mengumpulkan begitu banyak harta demi diri dan keluarga kita sendiri. Ada kekeliruan yang cenderung menjadi prinsip kita, bahwa seolah-olah kesuksesan jaman kita diukur dari seberapa banyak harta atau uang yang bisa kumpulkan selama waktu hidup kita di dunia ini. Dan lebih sadis dan sangat konyol lagi bahwa setelah kita memiliki apa yang kita miliki saat ini, begitu berat hati kita untuk berbagi dengan yang lain. Padahal bukankah semua itu datangnya dari Allah? Ingatlah bahwa Anda dan saya hanyalah perangkai – pembuat dan bukan pencipta. Karena kita hanya perangkai dan pengumpul, saatnya nanti semua yang kita kumpulkan akan hilang bersamaan dengan hilangnya hidup kita di dunia ini. Maka sebelum semuanya hilang sia-sia, jauh lebih manusiawi kalau kita membagikannya dengan orang lain, dengan teman kita yang nota bene senasib dengan kita yang pada awalnya dilahirkan sama-sama telanjang, tanpa apa-apa. Inilah saatnya, dan inilah waktu yang tepat. Jangan berlambat lagi untuk berbuat kasih. Berkatalah seperti Sto. Paulus bahwa karena aku telah menerimanya dengan cuma-cuma maka aku akan memberikannya juga dengan cuma-cuma. Karena seperti doa Sto. Fransiskus dari Asisi, “Tuhan semoga aku lebih baik memberi daripada menerima, mencintai daripada dicintai,… karena dengan memberi aku menerima….”
Bagian kedua dari bacaan pada hari ini adalah godaan-godaan di sekitar kita. Kisah Tuhan Yesus yang digoda iblis dengan tiga tawaran yang menggiurkan kiranya juga merupakan godaan dan tantangan untuk kita dewasa ini. Perhatikanlah baik-baik kisah itu, bahwa Tuhan Yesus digoda iblis ketika Dia sedang berpuasa. Ketika itu Dia digoda untuk menyalah gunakan kekuasaan-Nya sebagai Anak Allah dengan mengubah batu menjadi roti. Saya ingat cerita salah seorang teman saya, konon katanya ada anak sekolah minggu yang protes sama guru sekolah minggunya ketika menceritakan kisah ini. Si anak sekolah minggu yang polos itu spontan berkata kepada ibu gurunya, “Bu guru, kenapa Tuhan Yesus tidak bisa mengubah batu itu menjadi roti, padahal kalau Dia mau Tuhan Yesus bisa saja mengubah iblis yang menggodaNya itu menjadi roti?” Jawaban apa yang diberikan ibu guru sekolah itu kepada anak sekolah minggunya, “Dek, memang kalau Tuhan Yesus mau, dia bisa berkata kepada iblis yang menggodaNya itu, jangankan mengubah batu itu menjadi roti kalau Aku mau dirimu yang jelek itu pun bisa aku buat menjadi roti, tetapi Aku datang bukan untuk pamer kehebatanKu,…”
Apa yang dikatakan oleh ibu guru sekolah minggu yang saya ceritakan di atas memang benar. Begitu gampang kita menyalahgunakan kekuasaan, kemampuan dan bakat yang Tuhan berikan kepada kita. Minta maaf, lihatlah bagaimana misalnya orang-orang pintar di negeri ini dengan gampang sekali terjatuh dalam godaan ini.
Godaan kedua yang dipakai oleh iblis untuk menjatuhkan Tuhan Yesus adalah memintaNya untuk “berlutut”-menyembah si iblis dan akan memberikannya semua kemegahan dunia kepadaNya. Sekali lagi ini juga adalah godaan kita dewasa ini. Ingatlah begitu gampang kita “bertekuk lutut” di hadapan lawan-lawan kita ketika ada tawaran yang menggiurkan. Begitu gampang kita mengatakan, “good by dukuk bai – selamat tinggal dukuk bai” saat kita sudah mulai tergiur dengan asap pantat motor atau tergiur dengan iming-iming orang lain, entah atas nama cinta atau atas nama jaminan pekerjaan. Terkadang kita terlalu jual murah iman dan diri bahkan martabat kita hanya atas alasan iming-iming kepuasan dan kemegahan dunia.
Godaan terakhir dari tiga godaan yang ditawarkan oleh ibilis kepada Tuhan Yesus adalah memintaNya menjatuhkan diri-Nya dari atas bubungan Bait Allah di Yerusalem. Perlu direnungkan di sini mengapa iblis memilih membawa Tuhan Yesus ke Yerusalem, sebuah kota suci. Godaan ini juga adalah godaan kita dewasa ini. Tidak sedikit dari antara kita dengan begitu entengnya mengatas namakan Tuhan dan dengan alasan yang sangat suci kita mencari-cari pembenaran untuk mengelabui sesama kita demi kepentingan diri sendiri. Dan perhatikanlah jawaban Tuhan Yesus kepada iblis yang menggodaNya, “Ada firman, janganlah enkau mencobai Tuhan, Allahmu” Tidak sedikit dari antara kita mencoba membolak-balik Kitab Suci dan mencari-cari ayat Kitab Suci yang bisa mempersalahkan perbuatan sesama kita. Inilah yang terjadi dalam godaan ketiga. Si iblis mencoba mengutip teks suci dan menjebak Tuhan Yesus. Pada hal si iblis itu lupa bahwa yang dihadapinya adalah Tuhan, Anak Allah.
Saya teringat dengan satu cerita lucu dan konyol yang pernah kualami. Suatu ketika ada seorang pendeta bertanya kepada saya, entah dia serius atau tidak tetapi dari mimiknya aku menafsirkannya sebagai pertanyaan serius. Ia bertanya kepadaku, “Kokh pastor merokok, bukankah itu dilarang oleh Alkitab dengan kata-kata “mengotori bait Allah”? Waktu itu awalnya saya hanya tersenyum, dan dalam hati berkesimpulan sementara betapa dangkalnya pikiran orang ini. Tetapi karena dari mimiknya ia sepertinya menunggu jawabanku, maka aku hanya bilang sambil tertawa kecil “Hahaha,… bukankah ada juga dikatakan bahwa bukan apa yang masuk yang menajiskan orang tetapi apa yang keluar?” Saya tahu pada waktu itu bahwa aku telah masuk dalam perdebatan konyol dan dangkal lalu cepat-cepat aku mengalihkan pembicaraan. Begitu gampang kita menghakimi sesama kita dengan teks-teks suci yang sesungguhnya kita sendiri tidak tahu dan paham semata demi pembenaran diri. Dan bahkan lebih menyedihkan lagi bahwa terkadang dibalik alasan dan rasionolisasi suci itu kita menyimpan kepentingan-kepentingan diri kita sendiri.
Dan yang terakhir dari bagian ini adalah, kata-kata penginjil “Sesudah mengakhiri semua pencobaan itu, iblis mundur dari Yesus dan menunggu waktu yang baik (Luk 4:13)”. Saya ingin menggarisbawahi kata-kata “iblis menunggu waktu yang baik”. Demikian juga dengan hidup kita. Tidak jarang kita merasa menang atas cobaan-cobaan tetapi kita tidak boleh lupa bahwa iblis itu hanya mundur beberapa langkah, tidak jauh di belakang kita memata-matai kita, kapan ia bisa menyerang kita. Ia menunggu waktu yang tepat, saat kita lenga. Dan betul, marilah kita lihat saja pengalaman kita selama masa pra-praskah yang baru berjalan beberapa hari ini, mulai dari hari Rabu sampai hari ini. Kita diajak oleh Gereja untuk masuk dalam masa tobat, tetapi sekali lagi bertanyalah kepada diri Anda sendiri apakah Anda tidak sedang diobok-obok oleh si iblis yang hanya mundur beberapa langkah dari hadapan kita saat kita merasa kuat.
Marilah kita belajar dari Tuhan Yesus sendiri. Dia bisa sanggup dan kuat menjalani godaan-godaan yang ditawarkan si iblis kepada-Nya karena Dia semata-mata mengandalkan Bapa-Nya. Dia sungguh-sungguh tetap bersatu dengan Bapa-Nya dalam seluruh hidup-Nya. Sedetik pun Ia tidak pernah berpisah dengan-Nya, dan itulah yang memberinya kemenangan. Maka, kalau Anda dan saya ingin menang, persatukanlah diri Anda dengan Tuhan, Allah kita. Jangan biarkan diri kita terpisah dengan-Nya sedetik pun. Kalaupun terlanjur terjatuh, jangan lupa bangun kembali seperti Tuhan Yesus sendiri bangun kembali ketika Ia terjatuh tertimpah salib berat-Nya. Semoga Tuhan membantu kita selalu, selamat hari minggu pra-paskah pertama.***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar